• 0812 2144 9950

hallöchen nama saya Juni, saya lahir dan besar di Kota Bandung. Saya tinggal 2.5 tahun di Jerman dan baru kembali ke tanah air pada bulan maret 2018 dan akan kembali ke Jerman pada bulan September ini untuk melanjutkan Master di Universitas Hamburg.

Sejak SMP saya memang memiliki ketertarikan di bidang International Relation dan bercita-cita menjadi duta Besar. Di masa saya sekolah SMA saya adalah Wakil dari Englisch Club dan mewakili sekolah juga Indonesia di dalam UNESCO program yang di adakan oleh partner school dari Malaysia. Saya mendapatkan kesempatan selama 5 hari untuk menjelajahi peninggalan sejarah yang disahkan oleh UNESCO di malaysia. Dalam program tersebut ada 3 sekolah dari Malaysia, 1 sekolah dari philipina, 2 sekolah dari korea selatan dan 2 sekolah dari Indonesia. Saya makin mantap untuk mengambil kuliah jurusan hubungan internasional tapi pada ujian SNMPTN yang saya ikuti ternyata saya gagal masuk jurusan tersebut dan jurusan kedua yang saya pilih adalah Pendidikan Bahasa Jerman. Layaknya pejuang-pejuang SNMPTN saya bersyukur masuk perguruan tinggi negeri tanpa harus membayar mahal..

1 september 2010 saya resmi menjadi mahasiswa pendidikan Bahasa Jerman , Universitas Pendidikan Indonesia. Pada awal perkuliahan saya sama sekali tidak mengetahui mengenai Bahasa Jerman karena di SMA saya belajar bahasa Perancis. Saya mulai dari nol belajar bahasa Jerman sedangkan teman-teman seangkatan saya sudah banyak yang belajar bahasa jerman sebelumnya bahkan ada beberapa yang sudah mendapatkan beasiswa ke Jerman . Saya berpikir barangkali ada jalan melihat Eiffel tower dan tinggal di luar negeri  tanpa harus mengambil jurusan perancis atau hubungan internasional.Tapi saya tidak patah semangat untuk belajar terus bahasa Jerman karena passion saya di Bahasa bahkan saya ikut les bahasa perancis di lembaga bahasa Perancis yang ada di Bandung .Semasa kuliah bahasa Jerman dikarenakan saya tidak mau penguasaan bahasa saya hilang begitu saja. Di kampus saya termasuk orang yang aktif berorganisasi bahkan sampai pernah ipk saya turun drastis tapi bagi saya ipk bukan lah tolak ukur dari kesuksesan seseorang.

Sampai tingkat akhir ipk saya tidak berubah secara signifikan. Di akhir sidang hanya mendapatkan ipk 3.08. Beberapa teman seangkatan sudah bergelar sarjana sedangkan saya baru mau memulai Skripsi . Di tingkat akhir saya sudah membiayai kuliah sendiri karena sudah bekerja paruh waktu di coffee shop terkenal  sebagai barista . Selain sibuk bimbingan dan bekerja pada bulan desember saya sudah mendapatkan tawaran untuk menggantikan posisi kawan saya sebagai Aupair di keluarga jerman yang berada di Munich. Bulan januari saya sudah mendapatkan kontrak sehingga saya memang membagi 3 waktu prioritas untuk skripsi, bekerja, dan persiapan keberangkatan ke Jerman. Perjuangan bangun pagi jam 2 subuh dan berangkat kerja jam 3 subuh lalu di lanjut jam 1.30 siang bimbingan sudah menjadi hal yang biasa. Banyak sekali rintangan yang harus di lalui sebelum saya bisa lulus dan resign . Setiap orang pasti mempunyai ceritanya masing-masing. Setelah saya membereskan skripsi dan siding pada bulan April, bulan juni saya ujian A2 di Goethe Institut lalu bulan juli saya sudah mengajukan visa. Lama pengajuan visa hanya 2 minggu karena keluarga saya dan pihak imigrasi di jerman sangat cepat mengurusi dokumen saya. Akhir juli saya resign menjadi barista dan pada tanggal 15 september 2015 5 hari setelah wisuda saya berangkat ke Jerman .  Tiket pesawat di cover oleh Hostfamily saya. Rute pesawat saya Jakarta- Amsterdam non stop 13 jam dan Amsterdam – Munich .

16 September 2015 pukul 14:00 waktu jerman saya menginjakan kaki di Jerman . Negara yang menjadi Negara impian bagi banyak orang. Setibanya disana saya di jemput oleh Gastmutti saya dan disambut hangat oleh anak-anak . Makanan pertama yang saya coba adalah KFC . yah,disana kan KFC tidak pakai nasi jadi yeah cukup berbeda. 3 hari setelah itu saya langsung di ajak ke Oktoberfest oleh kawan-kawan saya yang berada di Munich. Tugas utama saya tidak banyak di keluarga ini karena anak yang paling kecil sudah berumur 6 tahun. Tugas saya di pagi hari menyiapkan sarapan lalu mengantar anak kedua ke halte bus, membawa cucian ke tempat cucian lantai bawah, membereskan kamar, dan pergi les sampai jam 12. Pada jam makan siang saya hanya hari jumat memasak hari-hari yang lain memasak untuk diri sendiri. Di sore hari saya menjemput anak yang paling kecil tetapi hanya 2x seminggu. Tugas paling utama adalah menyetrika baju, dan membereskan ke lemari. Tugas tambahan yang lain itu conditional dan tidak memaksa. Jikalau mereka membutuhkan pertolongan untuk babysitting mereka akan memberi tahukan 2 minggu sebelumnya. Itulah ciri khas bekerja dengan orang jerman tepat waktu dan sangat menghargai waktu . Bahkan mereka sudah memiliki jadwal setahun . Hal-hal yang mungkin akan terasa berat yaitu ketika sakit, ketika terkadang kita harus mengalah karena rasa tidak enak yang masih mendarah daging. Maklum, orang indonesia memang banyak ga enaknya. Perjalanan menjadi Aupair tidak semudah dan semulus jalan tol banyak rintangan yang harus di hadapi . terumata menghadapi anak-anak yang berbeda dengan anak-anak indonesia . juga kultur mendidik yang berbeda antara orang tua jerman dan orangtua indonesia. Alhamdulilah saya mendapatkan Hostfamily yang sangat baik,selain membantu saya dalam melanjutkan kehidupan di jerman berikutnya merekamasih membantu saya ketika saya pindah tempat tinggal. Tahun menjadi Aupair dengan uang saku yang pas-pasan bukan berarti saya tidak bisa menjelajahi eropa tentunya bisa hanya tidak menjadikan perjalanan sangat fancy . ala-ala Backpacker murah meriah. Saya bukan berarti hanya diam .tetapi biasanya sebelum mengajukan liburan harus bertanya kepada Hostfamily takutnya mereka membutuhkan keberadaan kita. Itu pula menghindari misunderstanding. Setahun banyak sekali cerita menyenangkan maupun cerita buruk. Salah satu cerita yang tidak akan saya lupakan adalah ketika ada kejadian penembakan di pusat kota. Kebetulan saya sedang menuju kerumah salah satu kawan. Dan jarak kejadian dengan tempat dimana saya berada kurang daari 1 km. Hanya berbeda 1 Stasiun. Awalnya saya tidak mengetahui apa yang sedang terjadi setelah saya menelfon salah satu teman dan dia menjawab bahwa telah terjadi penembakan saya kaget . seluruh alat transportasi mati dan saya stuck tidak bisa kemana-mana. Banyak orang berjalan dan berlarian ketika sirine kota tanda bahaya berbunyi semua orang harus bersembunyi termasuk saya yang tidak tahu menahu dan hanya mengikuti orang karena kaget. Saya bersembunyi di toko roti bersama orang lain. Semua toko di tutup dan di kunci. Disana saya menelfon Gastvater saya dan memberitahukan apa yang terjadi. Saya di perintahkan untuk diam dan menunggu sampai Gastvater saya menjemput. Saya sudah panik dan semua orang panik. Banyak telfon baik dari pihak KJRI maupun kawan-kawan saya. Kenapa masih ada sirine karena pelaku belum bisa di lumpuhkan dan masih bisa berkeliaran. 45 menit berlalu dan Gastvater saya datang menjemput dengan perasaan yang masih panik saya bercerita apa yang sudah terjadi. Setibanya saya dirumah saya di peluk dan di perintahkan untuk mandi juga makan tapi saya memutuskan untuk mandi dan langsung tidur karena masih dalam keadaan panik. Itulah kejadian yang tidak akan pernah saya lupakan. Saya merasa sangat beruntung memiliki Hostfamily yang sangat baik. Tetapi sebelum kalian semua pergi dan menginjakkan kaki di Jerman kalian harus sudah memiliki tekad dan tujuan yang jelas sometimes you have to adjust your dreams to reality. Tinggal di Negara orang, sendiri , harus berjuang baik dari segi bahasa, budaya , dan kebiasaan yang berbeda itu tidak semudah dan seindah feed instragram. Setelah Aupair saya masih tinggal di Jerman selama 1,5 tahun dalam Program FSJ (freiwilliges Soziales Jahr) tunggu di Part 2 yah……..

Leave a Comment

Contact Us On WhatsApp